Jibril Radio - Siapa sih yang tidak ingin dicintai? Dicintai oleh orang tua, pasangan, sahabat, atau bahkan idola, rasanya pasti menyenangkan. Tapi, pernahkah Anda membayangkan dicintai oleh Sang Pencipta semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala? Bayangkan, Dialah yang memiliki segala kekuasaan, keindahan, dan kesempurnaan. Jika kita berhasil meraih cinta-Nya, bukankah itu adalah puncak kebahagiaan sejati yang akan membawa ketenangan di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat?
Dalam sebuah kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. mengajak kita menyelami makna "Menggapai Cinta Allah". Bukan hanya sekadar pengakuan cinta dari kita kepada-Nya, melainkan bagaimana kita bisa menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Artikel ini akan merangkum poin-poin penting dari kajian tersebut.
Apa Itu Cinta Allah dan Mengapa Sangat Penting Bagi Kita?
Sebelum kita membahas bagaimana cara dicintai Allah, mari kita pahami dulu apa itu cinta Allah dan mengapa ini sangat fundamental bagi kehidupan kita. Cinta Allah bukanlah cinta biasa. Ini adalah sebuah karunia terbesar, nikmat yang tiada tara, yang bisa mengubah seluruh aspek kehidupan seorang hamba.
Ustadz Firanda Andirja menjelaskan, jika seseorang dicintai oleh "pejabat" atau "raja" dunia saja sudah merasa bangga, bagaimana jika ia dicintai oleh Rabbul 'Alamin, Pencipta alam semesta? Seorang hamba yang penuh kekurangan, dosa, dan selalu membutuhkan Pencipta-Nya, diberi kesempatan emas untuk meraih cinta tersebut. Ini adalah setinggi-tingginya kemuliaan!
Mengapa kita harus menggapai cinta Allah? Karena dengan cinta-Nya, kita akan mendapatkan banyak sekali keistimewaan yang luar biasa. Ini bukan hanya janji manis, tapi sebuah realita yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Keistimewaan Luar Biasa Bagi Hamba yang Dicintai Allah
Jika Allah sudah mencintai seorang hamba, ada beberapa keistimewaan yang akan menyertainya, seperti yang dijelaskan dalam kajian ini:
Dibanggakan di Langit oleh Para Malaikat
Ini adalah kehormatan tertinggi! Allah akan memanggil Jibril dan berkata, "Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia." Lalu Jibril pun menyeru para malaikat di langit untuk mencintai hamba tersebut. Bayangkan, nama kita disohorkan dan dicintai oleh makhluk-makhluk mulia di alam sana!
Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya dan menyeru penghuni langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia.’ Maka seluruh penghuni langit pun mencintainya. Kemudian kecintaannya akan diletakkan di hati penduduk bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak Akan Diazab oleh Allah
Ustadz Firanda menyinggung klaim kaum Yahudi dan Nasrani yang mengaku sebagai anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya. Namun Allah membantah, "Katakanlah (Muhammad): ‘Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ Tidak! Kamu hanyalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya..." (QS. Al-Ma'idah: 18).
Artinya, kekasih Allah itu tidak akan disiksa. Jika dulu ada kaum mereka yang diubah menjadi kera dan babi karena kemaksiatan, itu bukti mereka bukan kekasih Allah. Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang telah dicintai Allah, maka ia tidak akan diazab dan akan meraih husnul khatimah (akhir yang baik). Mustahil orang yang dicintai Allah berakhir dengan su'ul khatimah.
Dijaga dan Dibimbing Langsung oleh Allah
Ini adalah janji yang sangat menenangkan bagi setiap hamba. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: "Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, Aku menjadi tangannya yang dia memukul dengannya, dan Aku menjadi kakinya yang dia berjalan dengannya..." (HR. Bukhari).
Maksudnya, Allah akan membimbing dan menjaga pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, hati, dan lisan hamba tersebut. Ia akan dijaga dari maksiat, tidak akan betah melihat atau mendengar yang haram, dan senantiasa berpikir pada hal-hal bermanfaat. Bukan berarti ia maksum (terbebas dari dosa), tapi secara umum ia akan terjaga dan kembali sadar jika terjerumus dalam kesalahan.
Senang Dekat dengan Allah dan Giat Beribadah
Jika kita mencintai seseorang, kita pasti senang berdekatan dengannya, bukan? Begitu pula jika Allah mencintai kita, Dia akan senang jika kita dekat dengan-Nya. Hal ini akan memunculkan semangat beribadah pada diri seorang hamba.
Ia akan semakin giat membaca Al-Qur'an, menghadiri majelis ilmu, shalat malam, bersedekah, dan senang berkhalwat (berdua-duaan) dengan Allah melalui ibadah-ibadah. Ibadah bukan lagi beban, melainkan kebutuhan dan kebahagiaan.
Diuji dengan Ujian yang Lebih Berat
Nah, ini mungkin terdengar kurang menyenangkan, tapi justru ini adalah tanda cinta! Nabi ï·º bersabda: "Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka." (HR. Tirmidzi).
Juga dalam hadits lain: "Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Dia akan menimpakan musibah kepadanya." (HR. Bukhari).
Para nabi dan orang-orang saleh adalah golongan yang paling berat ujiannya. Mengapa? Karena ujian adalah tangga untuk meningkatkan level keimanan dan kedekatan dengan Allah. Setiap kali berhasil melewati ujian, keyakinan hamba akan bertambah kuat, dan ia semakin merasa bahwa Rabbnya mencintainya dan memberikan solusi. Jadi, jangan berprasangka buruk jika diuji, karena itu bisa jadi tanda cinta-Nya!
Kiat-Kiat Praktis Menggapai Cinta Allah
Setelah mengetahui betapa agungnya karunia dicintai Allah, lantas bagaimana cara kita meraihnya? Ustadz Firanda menjelaskan beberapa amalan spesifik yang secara khusus disebutkan dalam nash (dalil) akan mendatangkan cinta Allah. Tentu saja, secara umum semua amal saleh akan mendekatkan kita kepada-Nya, namun ada beberapa yang ditekankan:
1. Bersabar dalam Segala Kondisi (Wallahu Yuhibbus Shabirin)
Sabar adalah kunci pertama yang disebutkan. Allah berfirman, "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar." (QS. Ali 'Imran: 146).
Sabar itu Tidak Mudah, Tapi Sangat Mulia: Banyak orang merasa sudah sabar, padahal kesabaran itu butuh perjuangan dan latihan terus-menerus. Bahkan Nabi ï·º pun diperintah untuk bersabar, "Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati..." (QS. Al-Ahqaf: 35). Kisah Nabi Nuh yang berdakwah 950 tahun penuh kesabaran, atau Nabi Ayyub yang diuji dengan penyakit dan kehilangan, adalah teladan bagi kita. Nabi Ayyub bahkan berkata kepada istrinya, "Kita telah diberi nikmat berapa tahun? 70 atau 80 tahun. Sekarang kita baru dikasih penyakit 7 tahun, engkau tidak adil." Ini menunjukkan betapa tingginya standar kesabaran para nabi.
Tingkatan Sabar: Ustadz Firanda menjelaskan tingkatan sabar:
Menahan (Al-Habsu): Ini tingkatan paling rendah. Hati bergejolak, ingin protes, ingin marah, tapi ia menahan diri. Tidak melakukan perbuatan yang menunjukkan protes seperti merobek baju, memukul pipi, atau mengucapkan perkataan jahiliyah. Allah mencintai orang yang mampu menahan diri ini.
Rida: Tingkat lebih tinggi, yaitu tidak ada gejolak sama sekali dalam hati. Ia rida sepenuhnya dengan ketetapan Allah.
Syukur: Tingkat tertinggi. Ia justru bersyukur dengan musibah yang menimpanya, karena yakin di balik itu ada hikmah dan kebaikan besar dari Allah.
Agar Sabar Bisa Kontinu: Untuk mempertahankan kesabaran, perhatikan dua hal:
Yakin Bahwa Hanya Allah yang Mampu Menyabarkan Kita: Jangan bersandar pada kekuatan diri sendiri, ilmu, atau harta. Allah berfirman, "Dan bersabarlah (Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan (pertolongan) Allah..." (QS. An-Nahl: 127).
Ucapkan Kata-kata Ini Saat Musibah Menimpa:
"Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un": Mengingatkan bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Allah berhak melakukan apa saja terhadap milik-Nya. "Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 156-157).
"Alhamdulillah Ala Kulli Hal": Segala puji bagi Allah dalam segala kondisi. Mengingat bahwa selalu ada hikmah di balik setiap takdir Allah, meski kita belum mengetahuinya.
"Qadarullah wa Ma Sya'a Fa'al": Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Menghilangkan "seandainya" yang hanya membuka pintu setan.
Berdoa: "Allahummajurni fi mushibati wakhlifli khairan minha": Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantilah dengan yang lebih baik. Ini akan menenangkan hati karena di balik musibah ada pahala besar.
Berdoa: "Allahummarbit ala Qalbi": Ya Allah, ikatlah hatiku agar aku sabar dan tidak meronta-ronta. Sebagaimana Allah mengikat hati ibu Nabi Musa agar tidak berteriak saat anaknya dihanyutkan.
Berdoa: "Rabbana Afrigh 'Alaina Sabra": Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran kepada kami. Meminta kesabaran yang melimpah dari Allah.
Ingatlah, kesabaran mendatangkan pahala yang tidak terhingga. "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10).
2. Berinfak dan Bersedekah dalam Kondisi Lapang Maupun Sempit
Amalan berikutnya adalah berinfak dan bersedekah. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin) yang di antaranya adalah mereka yang berinfak.
Ciri Orang Dicintai Allah: Tidak Pelit! Allah menyebutkan sifat orang bertakwa yang disediakan surga bagi mereka, di antaranya: "yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit..." (QS. Ali 'Imran: 134). Kata "yunfiquun" (menafkahkan) dalam bentuk fi'il mudhari' menunjukkan kontinuitas, bukan hanya sesekali. Orang yang dicintai Allah bukanlah orang pelit, yang terlalu perhitungan dengan hartanya. Bahkan ada yang saking seringnya berinfak, menjadi "kecanduan" sedekah! Mereka selalu mencari kesempatan untuk membantu orang lain.
Prioritas Sedekah: Dahulukan keluarga terdekat yang membutuhkan, seperti orang tua, kakak, adik, tante, atau paman. Pahala berinfak kepada keluarga lebih besar karena menggabungkan pahala sedekah dan silaturahmi. Allah berfirman: "Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan..." (QS. Ar-Rum: 38).
Sedekah Walau Sedikit: Jangan pernah merasa sedekah kita terlalu kecil. Nabi ï·º bersabda, "Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan bersedekah separuh kurma." (HR. Bukhari dan Muslim). Maksudnya, bersedekahlah semampunya. Rasulullah juga pernah bercerita tentang satu dirham yang mengungguli 100.000 dirham, karena satu dirham tersebut disedekahkan oleh seseorang yang hanya memiliki dua dirham (50% hartanya!), sementara 100.000 dirham disedekahkan oleh orang kaya yang hanya sebagian kecil dari hartanya. Allah menerima sedekah hamba-Nya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya seperti seseorang mengurus kudanya, hingga pahalanya berlipat ganda tak terhingga. "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261).
Jangan Tunda Sedekah: Harta yang kita infakkan akan menjadi tabungan kita di akhirat. Jangan menunggu kaya, jangan menunggu uang banyak. Saat terbetik keinginan untuk berinfak, segera lakukan! Karena ajal bisa datang kapan saja, dan saat itu penyesalan tidak akan berguna. "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS. Al-Munafiqun: 10).
3. Meredam Amarah dan Memaafkan Orang Lain
Ini adalah amalan berat tapi pahalanya luar biasa, dan secara langsung mendatangkan cinta Allah.
Menahan Amarah (Wal Kadhimina Al-Ghaizh): Masih dalam ayat yang sama tentang orang bertakwa, Allah berfirman: "dan orang-orang yang menahan amarahnya..." (QS. Ali 'Imran: 134). "Al-Kadhimina Al-Ghaizh" berarti menahan amarah yang sudah di puncak ubun-ubun, seperti menutup wadah air yang sudah penuh agar tidak meluber. Ini butuh kekuatan iman yang besar! Nabi ï·º bersabda: "Bukanlah orang yang kuat itu dengan (selalu menang dalam) bergulat, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Memaafkan Kesalahan Orang Lain (Wal 'Afina 'anin Nas): Setelah menahan amarah, Allah melanjutkan dengan: "dan memaafkan (kesalahan) orang." (QS. Ali 'Imran: 134). Ini juga amalan yang sangat berat. Ketika kita dizalimi – harta diambil, harga diri dijatuhkan, difitnah, direndahkan, bahkan dipukul – naluri manusia ingin membalas. Namun, memaafkan adalah puncak kemuliaan, dan Allah mencintai pelakunya. Allah menutup ayat ini dengan "Wallahu yuhibbul muhsinin" (dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan). Orang yang bersedekah, menahan amarah, dan memaafkan adalah muhsinin, orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan sempurna), dan mereka dicintai Allah.
Memaafkan adalah ibadah yang hanya bisa dilakukan saat kita dizalimi. Ini adalah kesempatan langka untuk meraih pahala dan cinta Allah. Bahkan, memaafkan orang lain bisa membuat Allah mengampuni dosa-dosa kita. "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nur: 22).
Raih Cinta-Nya, Raih Kebahagiaan Sejati!
Meraih cinta Allah bukanlah perkara mudah, namun sangat mungkin untuk digapai. Ini adalah karunia terbesar yang bisa kita impikan, karena akan membawa kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Jangan biarkan dunia melalaikan kita dari tujuan utama ini.
Mulailah dengan melatih kesabaran dalam setiap ujian hidup, rutinlah berinfak dan bersedekah sekecil apapun itu, dan berusahalah untuk menahan amarah serta memaafkan kesalahan orang lain. Jadikan amalan-amalan ini sebagai kebiasaan baik yang kontinu dalam hidup kita.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang dicintai, dibimbing, dan dimuliakan. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
-------------------------------------------------------------------------
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Sumber: Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
https://www.youtube.com/watch?v=UaHmOV8ywq4&t=834s
https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com

0 Komentar