Jibril Radio - Jika Anda sedang dalam perjalanan jauh di tengah badai, Anda pasti membutuhkan dua sayap yang kuat agar bisa mencapai tujuan dengan selamat. Dalam kehidupan, dua sayap itu adalah Syukur dan Sabar.
Ustadz Dr. Khalid Basalamah, M.A. sering mengingatkan bahwa seorang mukmin harus mampu menyeimbangkan dua hal ini. Kita harus bersyukur saat nikmat datang, dan bersabar saat ujian menimpa. Jika salah satunya hilang misalnya, kita bersyukur saat senang tapi mengeluh saat susah—maka hidup kita tidak akan stabil.
Nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala begitu melimpah, saking banyaknya hingga kita tidak akan mampu menghitungnya:
"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl Ayat 18)
Lantas, bagaimana kita menunaikan kewajiban syukur yang sebegitu besar ini? Mari kita pelajari hakikat syukur, tingkatan pelakunya, dan cara mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
1. Hakikat dan Kedudukan Syukur dalam Islam
Syukur, secara bahasa, berarti berterima kasih. Namun, menurut definisi ulama, syukur memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ustadz Khalid Basalamah mengutip Ibnu Qayyim rahimahullah bahwa syukur harus terwujud dalam tiga komponen utama:
Hati (Qalbi): Mengakui dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua nikmat yang diterima, sekecil apa pun, adalah murni berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Lisan (Lisani): Mengucapkan pujian dan terima kasih kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (terutama dengan Alhamdulillah) dan menyebut-nyebut nikmat tersebut sebagai pengakuan.
Anggota Tubuh (Jawarih): Menggunakan semua nikmat (kesehatan, harta, waktu, jabatan, pasangan) dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sifat Agung Allah: Syakur
Syukur bukan hanya sifat yang diperintahkan kepada hamba, tetapi juga salah satu sifat agung Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri (Asy-Syakur).
"Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (Asy-Syakur)." (QS. Asy-Syura: 23)
Makna Allah Subhanahu wa Ta'ala bersyukur adalah Dia membalas kebaikan hamba-Nya dengan balasan yang berlipat ganda. Kita beramal sedikit, Dia membalasnya dengan pahala yang melimpah dan rezeki yang tak terhingga (bighairi hisab). Inilah motivasi terbesar bagi kita untuk tidak pernah berhenti berbuat baik.
Nikmat yang Disamarkan
Ustadz Khalid Basalamah mengingatkan bahwa seringkali kita mengira hal-hal yang tidak menyenangkan seperti rasa lapar, haus, capek, atau sakit sebagai ujian murni, padahal itu adalah nikmat yang tersamarkan.
Lapar membuat kita menikmati makanan sekecil apa pun.
Capek membuat tidur malam menjadi sangat nyenyak dan berkualitas.
Sakit mengingatkan kita betapa besarnya nikmat sehat yang selama ini kita abaikan.
Jika kita sadar bahwa semua kondisi itu adalah kendaraan menuju kenikmatan yang lebih besar, maka kita akan selalu mengucapkan Alhamdulillah atas segala keadaan (Alhamdulillah ‘ala kulli haal).
2. Tingkatan Syukur Para Nabi dan Jalan Menuju Ridha
Para nabi dan rasul adalah teladan tertinggi dalam bersyukur, membuktikan bahwa syukur adalah level ibadah tertinggi.
Tingkat Tertinggi: Syukur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan betapa gigihnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat malam (Qiyamul Lail). Beliau berdiri sangat lama hingga kaki beliau bengkak dan pecah-pecah.
Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya: "Wahai Utusan Allah, mengapa engkau melakukan ini pada dirimu sendiri, padahal dosamu yang telah lalu dan yang akan datang sudah dimaafkan?"
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
"Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ibadah bukan lagi hanya sebagai perintah yang harus ditunaikan, tetapi sebagai tanda terima kasih atas segala nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan. Inilah level tertinggi yang harus kita kejar.
Teladan Nabi Nuh Alaihissalam
Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji Nabi Nuh Alaihissalam yang diselamatkan dari banjir besar dan dijadikan bapak kedua umat manusia:
"(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isra: 3)
Keselamatan Nabi Nuh Alaihissalam dan keberkahan keturunannya salah satunya disebabkan oleh konsistensi beliau dalam bersyukur.
Janji Ridha dan Hilangnya Siksa
Orang yang bersyukur mendapatkan dua janji utama dari Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Mendapatkan Keridhaan Allah: "Jika kalian bersyukur, maka Allah akan rida kepada kalian." (QS. Az-Zumar: 7). Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah rida, maka segala kebutuhan hamba akan terpenuhi dan kesalahannya dimaafkan.
Dijauhkan dari Siksa: "Allah tidak akan menyiksa kalian bila kalian bersyukur dan beriman." (QS. An-Nisa: 147). Syukur menjadi benteng terkuat kita dari azab dan kesulitan.
3. Enam Pilar Praktis Mengimplementasikan Syukur
Syukur harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Berikut adalah enam cara praktis untuk menjadi hamba yang bersyukur:
A. Syukur dengan Lisan: Membiasakan Alhamdulillah
Bukan hanya saat mendapatkan rezeki besar. Biasakan mengucapkan Alhamdulillah saat haus, lapar, bangun tidur, atau saat mendapatkan sedikit kemudahan, karena siapa yang tidak berterima kasih pada hal kecil, maka ia tidak akan berterima kasih pada hal besar.
B. Memuji Nikmat di Hadapan Manusia
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)." (QS. Ad-Dhuha: 11).
Kita boleh menyebutkan nikmat tersebut (rumah, kendaraan, kesehatan, umur) sebagai bentuk pengakuan atas karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala, asalkan tetap dihubungkan dengan-Nya (Alhamdulillah Allah telah mengamanahkan rumah ini kepada kami) untuk menghindari kesombongan dan kufur nikmat.
C. Menggunakan Nikmat untuk Ketaatan
Ini adalah inti syukur yang paling berat: menggunakan mata, lisan, waktu, dan harta hanya di jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak masuk akal jika kesehatan yang diberikan-Nya justru dipakai untuk bermaksiat, atau rezeki halal yang didapat justru dipakai untuk judi atau ghibah.
D. Melaksanakan Sujud Syukur
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu apabila mendengar kabar baik atau mendapatkan informasi yang menyenangkan, beliau langsung tersungkur sujud sebagai tanda syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sujud syukur bisa dilakukan kapan saja, bahkan saat tidak dalam keadaan berwudu (cukup menutup aurat dan menghadap kiblat).
E. Qanaah (Merasa Puas)
Qanaah adalah merasa puas dengan yang ada, tetapi bukan berarti melarang kita mencari yang lebih baik.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Jadilah hamba yang selalu merasa puas dengan nikmat Allah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur." (HR. Ibnu Majah)
Seorang mukmin boleh menikmati kendaraan yang nyaman, rumah yang luas, dan makanan yang berkualitas (halalan thayyiban), selama itu dalam batas kebutuhan (bukan keinginan/berlebihan) dan ia tetap bersyukur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan empat hal yang menjadi puncak kebahagiaan dunia, di antaranya adalah tempat tinggal yang luas dan transportasi yang nyaman.
F. Berbagi dan Membalas Kebaikan
Syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala terwujud juga melalui syukur kepada manusia. "Barang siapa yang belum berterima kasih pada manusia, maka (berarti) belum berterima kasih pada Allah." (HR. Tirmidzi)
Jika seseorang berbuat baik kepada kita, wajib hukumnya membalas setimpal. Jika tidak mampu, maka doakanlah: "Jazakallahu Khairan" (Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan).
4. Peringatan Keras: Nikmat yang Berbalik Menjadi Musibah
Puncak bahaya dari hilangnya rasa syukur adalah kufur nikmat (mengingkari nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala).
Ibnu Hazam rahimahullah berkata:
"Semua nikmat yang tidak mendekatkan diri kepada Allah (Subhanahu wa Ta'ala), maka dia adalah musibah."
Jika harta, pasangan, atau jabatan yang kita miliki justru membuat kita lalai salat, menunda Qiyamul Lail, atau berani berbuat maksiat, maka itu bukan nikmat, melainkan istidraj (tahapan siksaan) yang membuat kita makin jauh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hasan Al-Basri rahimahullah memperingatkan:
"Sesungguhnya Allah memberikan nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak mensyukurinya, maka akan berbalik menjadi siksa."
Solusi: Jauhi dosa-dosa, karena dosa dan pelanggaran dapat menahan rezeki dan menghilangkan keberkahan nikmat yang sudah ada.
Panen Pahala dengan Syukur
Syukur adalah janji abadi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kunci untuk mempertahankan nikmat dan memancing datangnya nikmat baru adalah dengan menjaga lisan, hati, dan perbuatan kita di atas ketaatan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, sehingga kita mendapatkan keridhaan-Nya di dunia dan balasan terbaik di surga kelak.
-------------------------------------------------------------
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Sumber: Kajian Ustadz Khalid Basalamah
https://www.youtube.com/watch?v=BfE07-RJuf0
https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com

0 Komentar