Jibril Radio - Siapa di antara kita yang hidupnya mulus tanpa ujian? Rasanya tidak ada, ya. Dari urusan rezeki yang seret, sakit yang tak kunjung sembuh, hingga masalah rumah tangga yang bikin pusing, semua adalah paket lengkap dalam menjalani hidup di dunia ini.
Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Maha Penyayang, sudah menyiapkan dua 'sayap' kehidupan agar kita bisa terbang melewati semua cobaan dengan selamat: Syukur saat nikmat datang, dan Sabar saat ujian menimpa.
Sebagaimana Ustadz Dr. Khalid Basalamah, M.A. sering mengingatkan, dua hal ini harus dimaksimalkan. Kalau kita bersyukur saat senang, tapi tidak sabar saat susah, hidup kita tidak akan stabil.
Namun, tahu tidak, ternyata sabar itu bukan sekadar diam dan pasrah, lho. Ada beberapa sikap dan perbuatan yang, tanpa sadar, bisa merusak pahala sabar yang sudah kita kumpulkan. Sayang sekali, kan, kalau kita sudah berusaha sabar, tapi nilainya terhapus karena tiga hal sepele?
Yuk, kita bedah tuntas kajian mendalam dari Ustadz Khalid Basalamah tentang 3 Faktor Utama yang Merusak Sabar agar kita bisa menjaga hati dan amal kita sampai finish kebahagiaan.
1. Perusak Sabar Pertama: Gundah dan Keluh Kesah (Protes Takdir?)
Pernahkah Anda bangun tidur, lalu merasa flu atau demam, dan refleks berkata, "Aduh, kenapa saya harus sakit, sih? Padahal kemarin sehat-sehat saja!"?
Sikap ini, Sobat, adalah bentuk Gundah dan Keluh Kesah yang menjadi perusak sabar paling halus, sekaligus paling sering kita lakukan.
Hakikat Keluh Kesah: Menolak Ketentuan Allah
Menurut Ustadz Khalid, sabar memiliki definisi yaitu menerima takdir Allah atas apa yang sedang diujikan, kemudian diikuti dengan ikhtiar mencari jalan keluar.
Saat kita berkeluh kesah (di luar kepada ahlinya seperti dokter atau ulama), seakan-akan kita sedang mempertanyakan, bahkan memprotes, keputusan Sang Pencipta.
Contoh Rasionalitas: Bayangkan Anda seorang karyawan. Jika pemilik perusahaan mengubah jam masuk kerja dari jam 9 pagi menjadi jam 8 pagi, Anda punya dua pilihan:
Menerima keputusan tersebut (bersabar), sehingga Anda tetap menjaga income dan nama baik.
Menggerutu dan memprotes (keluh kesah), yang bisa berujung pada PHK atau penurunan jabatan.
Sama halnya dengan kehidupan. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala yang punya alam semesta sudah menentukan kita sakit atau diuji, solusi terbaik adalah menerima takdir-Nya dan berikhtiar. Mengeluh tidak akan mengubah takdir, justru hanya menambah beban pikiran dan potensi dosa.
Kunci Solusi: Curhat Hanya kepada Allah
Lantas, apakah tidak boleh curhat? Tentu boleh, bahkan sangat dianjurkan, asalkan:
Kepada Ahlinya: Curhat masalah sakit kepada dokter. Curhat masalah hukum agama kepada ulama/ustadz.
Kepada Sang Pencipta (Allah Subhanahu wa Ta'ala): Inilah curhat yang paling tepat sasaran.
Dalil Al-Qur'an tentang Curhat kepada Allah: Kisah Nabi Ya’qub Alaihissalam saat kehilangan putranya, Nabi Yusuf Alaihissalam. Beliau berkata:
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَاۗ"Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Yusuf: 86)
Jika Nabi dan Rasul saja mengadu pada Allah, mengapa kita harus mengadu kepada manusia yang tidak memiliki kekuatan apa-apa? Fokuskan lisan dan hati untuk mengadu hanya kepada-Nya, karena hanya Dia yang bisa mengangkat ujian kita.
2. Perusak Sabar Kedua: Emosional dan Marah (Menggerutu pada Takdir)
Faktor perusak kedua sering datang beriringan dengan yang pertama: Marah dan Emosional.
Ketika kita diuji dengan cacian, fitnah, atau pengkhianatan orang lain, reaksi instan kita seringkali adalah marah dan ingin membalas dendam. Sayangnya, sikap emosional ini hanya akan menguras energi tanpa menyelesaikan masalah.
Peringatan Keras dari Ustadz Khalid: "Jangan balas keburukan dengan keburukan, hanya akan menguras energi kita."
Dampak Buruk Marah
Marah pada takdir atau kejadian buruk tidak akan memperbaiki keadaan. Sebaliknya:
Menghilangkan Keberkahan: Energi habis untuk membalas, bukan untuk mencari solusi.
Merusak Citra Diri: Seperti kisah dalam kajian, orang yang marah-marah, meskipun dia benar, akan terlihat buruk di mata orang lain.
Berpotensi Menambah Dosa: Saat marah, kita bisa saja membalas dengan keburukan yang lebih besar (misalnya, digosipkan satu cerita, kita membalas dengan sepuluh cerita).
Teladan Nabi: Sabar Mengalahkan Emosi
Ustadz Khalid Basalamah mencontohkan kisah luar biasa dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kesabarannya berhasil membuat seorang pendeta Yahudi masuk Islam.
Saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dicekik dan ditagih utang yang belum jatuh tempo oleh Yahudi tersebut, Nabi tidak membalas. Bahkan, saat Umar bin Khattab marah dan meminta izin untuk menebas leher Yahudi itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tenang memerintahkan Umar untuk membayarkan utangnya.
Inilah hikmahnya: Yahudi itu sengaja menguji apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki sifat kenabian terakhir, yaitu kesabaran yang mengalahkan emosi. Ketika terbukti, ia langsung bersyahadat.
Pelajaran: Ujian yang kita terima, baik itu cacian atau kedzaliman, adalah kesempatan untuk menaikkan derajat kesabaran kita. Jika orang lain berbuat buruk, biarkan urusan mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Fokuslah pada istighfar dan memperbaiki diri.
Dalil Hadits tentang Keutamaan Sabar: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ"Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Perusak Sabar Ketiga: Terburu-buru dan Tergesa-gesa (Ingin Hasil Instan)
Faktor perusak sabar yang ketiga adalah Terburu-buru (Istijlal). Ini adalah sikap ingin segera melihat hasil atau jalan keluar, tanpa menikmati proses kesabaran yang sedang berjalan.
Sabar Sampai Garis Finish
Sabar yang sesungguhnya adalah sabar hingga ujian itu selesai atau kita berhasil mencapai tujuan. Jika kita terburu-buru, kita akan kehilangan pahala maksimal yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ustadz Khalid Basalamah mengingatkan bahwa keberhasilan, baik dalam bisnis, rumah tangga, atau pendidikan anak, adalah milik mereka yang bersabar sampai garis finish.
Dalil Al-Qur'an tentang Kesudahan yang Indah: Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ"Maka bersabarlah kamu sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul telah bersabar, dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." (QS. Al-Ahqaf: 35)
Ayat ini menyiratkan dua pelajaran penting:
Sabar adalah Kualitas Para Rasul (Ulul Azmi): Jika para Rasul diuji dan harus bersabar, apalagi kita.
Dilarang Tergesa-gesa: Jangan terburu-buru mengharapkan ending, apalagi mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi kita.
Pelajaran dari Kisah Nabi Yunus Alaihissalam
Contoh paling jelas tentang bahaya tergesa-gesa adalah kisah Nabi Yunus Alaihissalam. Beliau diutus untuk berdakwah kepada kaumnya di Nainawa. Karena kaumnya tidak mau beriman dan beliau merasa frustrasi, Nabi Yunus Alaihissalam memutuskan meninggalkan lokasi dakwah tanpa perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Niatnya baik (mencari tempat dakwah baru), namun karena terburu-buru, beliau akhirnya ditelan oleh ikan paus. Ini adalah hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala agar beliau bersabar dan menunggu ketetapan-Nya. Beliau baru diselamatkan setelah terus-menerus berzikir dan memohon ampunan.
Pelajaran: Jangan pernah tinggalkan proses ujian di tengah jalan. Nikmati prosesnya, berikhtiar, dan yakinlah bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta'ala itu benar.
Janji Allah Pasti Benar
Tiga perusak sabar Gundah, Emosional, dan Terburu-buru semuanya bermuara pada satu penyakit hati: Kurangnya keyakinan pada janji Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah berjanji berkali-kali:
Dalil Al-Qur'an tentang Kemudahan Setelah Kesulitan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Jika kita sabar, kita akan menjadi bagian dari umat yang akan memanen buah manis dari kesabarannya. Lihatlah para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: 13 tahun mereka bersabar di Makkah dalam kondisi disiksa dan dihina, namun 10 tahun berikutnya di Madinah, Allah Subhanahu wa Ta'ala balas dengan kekuasaan, kemenangan, kekayaan, dan kejayaan.
Intinya, nikmati proses sabar Anda. Jangan biarkan tiga faktor perusak ini menghapus semua pahala yang telah Anda kumpulkan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita semua golongan orang-orang yang sabar, yang dibalas pahala tanpa batas!
__________________________________________
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Sumber: Kajian Ustadz Khalid Basalamah
https://www.youtube.com/watch?v=ZN5PCCbCjTo
https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com

0 Komentar