Jibril Radio - Pernah merasa hidup ini gini-gini aja? Atau lebih buruk, rasanya kok berantakan? Cemas memikirkan masa depan, kesal dengan masa lalu, dan penuh keluh kesah di masa sekarang. Kita kerja banting tulang, tapi hati tidak tenang. Kita punya keluarga, tapi rasanya ada yang kurang. WHO bahkan merilis data bahwa miliaran orang di dunia mengalami masalah kesehatan mental.
Di tengah kegelisahan modern ini, kita sering mencari solusi ke mana-mana: healing, liburan, konsultasi, atau lari ke hiburan. Dalam sebuah kajian tematik Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, M.A. mengingatkan kita pada sebuah solusi fundamental yang sering kita lupakan: "Perbaiki Hidupmu Dengan Shalat."
Bukan, ini bukan sekadar ceramah klise "ayo salat". Ini adalah bedah tuntas mengapa salat adalah software utama yang dirancang Allah untuk memperbaiki hardware dan firmware kehidupan kita. Yuk, kita kupas tuntas resep ampuh ini!
Penyakit Bawaan Manusia yang Bernama "Halu'a"
Sebelum bicara solusi, kita harus sadar dulu apa masalah kita. Ustadz Syafiq Riza Basalamah (SRB) mengawali dengan "diagnosis" dari Allah sendiri dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma'arij (ayat 19-21):
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا . إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا . وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh (halu'a). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah (jazu'a). Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir (manu'a)."
Inilah "penyakit bawaan" kita:
Halu'a (Suka Mengeluh): Ini adalah default setting kita. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang salah.
Jazu'a (Gampang Panik): Saat ditimpa musibah—PHK, sakit, atau sekadar ban bocor—kita langsung panik, marah-marah, menyalahkan takdir, dan seolah-olah dunia mau kiamat.
Manu'a (Sangat Kikir/Pelit): Sebaliknya, saat dikasih rezeki nomplok, gaji naik, atau bisnis lancar, kita langsung jadi pelit. Kita lupa berbagi, kita pegang erat harta itu seakan-akan itu hasil jerih payah kita sendiri.
Inilah akar dari hidup yang berantakan. Kita tidak stabil secara mental dan spiritual. Kita goyah saat diuji dengan kesusahan, dan kita sombong saat diuji dengan kesenangan.
Resep Allah Itu Simpel: "Kecuali Orang yang Salat"
Setelah Allah membeberkan penyakit kita, Dia langsung memberikan resepnya di ayat selanjutnya (ayat 22-23):
إِلَّا الْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
"Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (Yaitu) mereka yang istiqamah (da'imun) dalam melaksanakan salatnya."
Ini dia kuncinya! Solusi dari penyakit mental halu'a, jazu'a, dan manu'a adalah salat.
Salat adalah ibadah yang unik. Ustadz Syafiq Riza Basalamah, menjelaskan, ibadah lain ada musimnya:
Haji? Seumur hidup sekali bagi yang mampu.
Puasa? Setahun sekali.
Zakat? Setahun sekali, dan hanya bagi yang hartanya mencapai nisab.
Tapi salat? Salat adalah "vitamin ruh" yang harus kita konsumsi lima kali sehari, setiap hari, tanpa kecuali. Dari kita bangun tidur (Subuh) sampai kita menutup hari (Isya). Salat adalah ibadah yang Allah berikan langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ di Sidratul Muntaha, tanpa perantara, menunjukkan betapa pentingnya urusan ini.
Salat adalah charging station harian kita. Ia dirancang untuk me-reset kita kembali ke default setting yang benar: bahwa kita ini hamba, dan Allah itu Maha Besar.
"Saya Salat, tapi Kok Hidup Nggak Berubah?"
Ini pertanyaan jutaan dolar. Banyak dari kita yang salat, tapi tetap saja pelit, tetap saja gampang marah, tetap saja korupsi, dan tetap saja hidupnya amburadul.
Di mana letak kesalahannya? Ustadz Syafiq Riza Basalamah, menggarisbawahi dua masalah besar dalam salat kita:
Masalah 1: Salat "Asal-asalan" (Yang Penting Gugur)
Kita sering terjebak dalam salat "yang penting gugur kewajiban". Kita tidak sadar bahwa Allah mengancam orang yang model salatnya seperti ini.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
"Maka celakalah bagi orang-orang yang salat. (Yaitu) orang-orang yang lalai (sahun) terhadap salatnya." (QS. Al-Ma'un: 4-5)
"Lalai" di sini bisa berarti menunda-nunda waktu seenaknya, atau salat tapi pikiran ke mana-mana.
Bahkan, ada hadits menakutkan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya ada seseorang yang salat selama 60 tahun, namun tidak ada satu pun salatnya yang diterima. Boleh jadi ia menyempurnakan rukuknya tapi tidak menyempurnakan sujudnya, atau menyempurnakan sujudnya tapi tidak menyempurnakan rukuknya."
Menakutkan, bukan? Kita salat puluhan tahun, tapi di mata Allah nilainya nol, hanya karena kita terburu-buru. Kita tidak thuma'ninah (tenang sejenak) dalam setiap gerakan. Kita ingin cepat selesai karena ada urusan dunia yang menunggu.
Masalah 2: Salat yang Gagal Menjadi Perisai
Fungsi utama salat adalah sebagai perisai. Allah berjanji:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
"Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji (fahsya') dan mungkar." (QS. Al-'Ankabut: 45)
Jika kita masih rajin salat, tapi di saat yang sama juga rajin ghibah, gampang berdusta, nonton yang haram, atau makan riba, maka ada yang salah dengan salat kita. Salat kita gagal berfungsi.
Dalam sesi tanya jawab, ada jemaah yang curhat, "Saya sudah rajin salat, tapi kok masih susah menundukkan pandangan (melihat wanita cantik)?"
Ustadz Syafiq Riza Basalamah, mengingatkan bahwa pandangan itu adalah panah beracun dari iblis (sahmun min sihami iblis). Solusinya adalah perbaiki salat dan paksa diri untuk berdoa. Salat yang benar akan memberi kita kekuatan untuk menundukkan pandangan. Jika belum, berarti salat kita masih perlu "diservis".
Salat adalah Prioritas Utama, Bukan Sampingan
Bagaimana cara kita memandang salat akan menentukan bagaimana kita memandang hidup. Ustadz SRB membawakan sebuah atsar (riwayat) yang sangat kuat dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Ketika menjadi Khalifah, Umar menulis surat kepada seluruh gubernurnya. Apa isi suratnya? Bukan tentang ekonomi atau militer. Isi suratnya:
"Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting di mataku adalah shalat. Barangsiapa yang menjaganya, berarti ia telah menjaga agamanya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk urusan selainnya (pekerjaan, keluarga, amanah) ia akan lebih menyia-nyiakan."
Ini adalah game changer.
Logika Umar radhiyallahu 'anhu sangat jernih: Jika amanah kepada Allah (salat) saja dia berani khianati, apalagi amanah kepada manusia (pekerjaan)? Jika panggilan Allah saja dia abaikan, apalagi panggilan bos atau klien?
Jika hidupmu berantakan, coba cek: Apakah salatmu menjadi prioritas utama, atau hanya sekadar "pekerjaan sampingan" di sela-sela kesibukan dunia?
Saat azan berkumandang, apakah kita bilang "Tunggu, lagi nanggung"?
Apakah kita salat di akhir waktu dengan terburu-buru?
(Bagi pria) Apakah kita sengaja meninggalkan salat jemaah di masjid tanpa uzur?
Jika iya, wajar jika hidup kita penuh masalah. Karena kita telah menyia-nyiakan urusan yang paling penting.
Cara Praktis Memperbaiki Hidup dengan Salat
Baik, kita sudah tahu masalahnya. Sekarang, apa langkah praktisnya?
1. Mulai dengan Ekstra Sabar (Wasthobir)
Memperbaiki salat itu berat. Mengajari anak kita salat juga super berat. Allah tahu itu. Makanya saat memerintahkan kita mengajari keluarga salat, Allah tidak bilang "sabar", tapi pakai kata yang lebih dahsyat:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan ekstra sabar (wasthobir) dalam mengerjakannya..." (QS. Taha: 132)
Wasthobir artinya butuh kesabaran level ultimate. Butuh perjuangan terus-menerus. Jadi, jangan menyerah jika hari ini salat kita belum khusyuk. Terus paksa, terus lawan, dan ekstra sabar.
2. Jangan Meremehkan Doa Kita sering merasa usaha kita sudah maksimal, tapi lupa senjata utama. Ustadz SRB mengingatkan bahwa sabar saja tidak cukup, kita butuh doa. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim Alaihissalam berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, dan (jadikanlah pula) anak keturunanku. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim: 40)
Seorang Nabi saja masih minta agar dijadikan orang yang mendirikan shalat. Apalagi kita? Maka, berdoalah dalam sujudmu, "Ya Allah, bantu aku perbaiki salatku. Bantu aku agar khusyuk. Bantu aku agar anak-anakku cinta salat."
3. Pelajari Lagi Fikih Salat Kapan terakhir kali kita belajar tentang salat? Mungkin waktu kita SD atau TPA. Ustadz Syafiq Riza Basalamah, mengingatkan, jangan-jangan salat kita 60 tahun tidak diterima karena kita tidak pernah upgrade ilmu. Pelajari lagi apa itu rukun salat, apa saja sunnahnya, apa yang membatalkannya, dan pahami bacaannya (minimal Al-Fatihah).
Salat Bukan Beban, tapi Kebutuhan
Kajian "Perbaiki Hidupmu Dengan Salat" ini menyadarkan kita bahwa salat bukanlah beban yang harus digugurkan, melainkan sebuah kebutuhan primer untuk ruh dan mental kita.
Hidup yang berantakan, penuh keluh kesah, dan tidak tenang (halu'a), adalah sinyal bahwa "vitamin" salat kita bermasalah. Entah dosisnya kurang (bolong-bolong), atau kualitasnya jelek (asal-asalan).
Jika kita ingin hidup kita membaik, mulailah dari hal yang paling penting: perbaiki hubungan kita dengan Allah melalui salat. Jadikan ia prioritas, jaga kualitasnya, dan lakukan dengan konsisten (da'imun dan yuhafidzun).
Maka, jangan hanya bertanya kapan hidupmu akan membaik. Tapi tanyakan: Kapan salatmu akan membaik?
---------------------------------------------------
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Sumber: Kajian Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
https://www.youtube.com/watch?v=RpE_HitCG2c&t=414s
https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com

0 Komentar