![]() |
| Oleh: Tim Jibril Radio (Merangkum Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.) |
Jibril Radio - Saudaraku seiman, mari coba kita sejenak merenung. Dalam hiruk pikuk kehidupan, seringkali kita tenggelam dalam kesibukan mencari harta, pangkat, atau sekadar menikmati kesenangan fana. Realitas ini bahwa kita kerap melupakan tujuan akhir telah dicela oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai suatu bentuk kejahilan (kebodohan).
Mengapa disebut jahil? Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A., dalam kajiannya, menjelaskan bahwa seorang pelaku maksiat disebut jahil karena ia menumbalkan kenikmatan abadi di surga demi kenikmatan dunia yang sedikit dan sesaat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memperingatkan kita mengenai komparasi antara kedua alam ini, sebagaimana firman-Nya:
"... Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.'" (QS. An-Nisa: 77)
Guna membentengi diri dari kejahilan ini, kita perlu menyusun Studi Banding yang terang benderang, membandingkan secara detail 10 poin utama antara nikmat dunia dan nikmat akhirat berdasarkan bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Studi banding ini adalah metode para Nabi dan Rasul untuk mengingatkan umatnya.
1. Kenikmatan Dunia Adalah "Setetes Air"
Perbandingan pertama ini adalah fondasi utama yang wajib kita pahami. Kenikmatan dunia, seberapa mewah pun, adalah sangat kecil jika dibandingkan dengan akhirat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, menggambarkan perbandingan yang ekstrem:
"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti salah seorang dari kalian memasukkan jarinya di laut, kemudian dia angkat jarinya tersebut, dia lihat apa yang tersisa di tangannya." (HR. Muslim)
Bayangkan, seberapa besar lautan itu, dan seberapa sedikit air yang tersisa hanya satu tetes—atau bahkan kurang—di ujung jari kita. Setetes itulah kenikmatan dunia; lautan yang luas tak bertepi itu adalah kenikmatan akhirat.
Selain itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
"Sungguhnya tempat cemeti kalian (tempat peletakkan kecil) di surga lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR. Bukhari)
Bahkan sebidang tanah kecil di surga nilainya melebihi seluruh aset, emas, perak, dan kekayaan yang ada di dunia dari awal hingga akhir.
2. Kenikmatan Dunia Berakhir (Expired)
Semua kenikmatan di dunia ini, mulai dari harta, jabatan, kecantikan, hingga nyawa kita sendiri, memiliki tanggal kedaluwarsa. Dalam bahasa Al-Qur'an, semua itu disebut "Mata'un"—sesuatu yang dipakai dan akan selesai.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 96)
Sebaliknya, kenikmatan akhirat memiliki dua sifat yang menjadikannya sempurna: Lebih Baik (Khairun) dan Kekal Abadi (Abqa) [QS. Al-A’la: 17]. Utsman bin Maz'un radhiyallahu 'anhu pernah membantah syair jahiliyah, menegaskan bahwa kenikmatan surga tidak akan hilang dan sirna.
3. Kenikmatan Dunia Tidak Sempurna
Segala hal yang kita cintai di dunia, betapapun indahnya, pasti memiliki cacat dan kekurangan. Sahabat tidak sempurna, pasangan tidak sempurna, mobil mewah pun akan rusak.
Dalam syariat, kita diajari kaidah: "Tidak ada kesempurnaan di dunia."
Berbeda dengan surga. Allah telah menyiapkan segala sesuatunya dalam kondisi sempurna. Sebagai contoh, sungai-sungai di surga:
"Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, dan sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari khamar (anggur) yang lezat bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring." (QS. Muhammad: 15)
Susu dunia jika dibiarkan akan basi atau menggumpal, namun susu di surga tidak. Ini menunjukkan kesempurnaan kenikmatan tanpa aib.
4. Kenikmatan Dunia Punya Efek Samping
Hampir semua kenikmatan dunia diikuti oleh efek samping—semakin nikmat, semakin berbahaya. Makanan lezat memicu kolesterol dan asam urat. Minuman keras memabukkan dan menghilangkan akal. Bahkan, setelah makan, kita harus berurusan dengan kotoran dan bau tak sedap.
Adapun di surga, semua efek samping ditiadakan:
Minuman Anggur (Khamar): Tidak menimbulkan pening di kepala dan tidak membuat perkataan sia-sia atau dosa [QS. At-Thur: 23].
Makanan: Penghuni surga tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak ingusan. Yang ada hanyalah sendawa dan keringat yang aromanya seharum minyak kasturi [HR. Bukhari dan Muslim].
5. Semakin Cinta, Semakin Berat Perpisahan
Ini adalah risiko tersembunyi dari kenikmatan dunia, terutama rasa cinta. Semakin dalam kita mencintai seseorang, semakin besar kebahagiaan yang kita rasakan, namun semakin berat pula penderitaan dan kesedihan saat perpisahan datang (kematian).
Jibril alaihi salam pernah berpesan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Cintailah siapa saja yang engkau sukai, niscaya engkau akan berpisah darinya." (HR. Thabrani)
Di surga, risiko ini hilang karena tidak ada lagi kematian. Kenikmatan yang kita rasakan, baik pasangan, makanan, maupun istana, akan abadi dan tidak akan pernah berpisah.
6. Kenikmatan Dunia Ada Musim dan Batas Waktunya
Kenikmatan dunia tidak bisa dinikmati terus-menerus. Buah-buahan ada musimnya. Kendaraan ada waktunya rusak. Bahkan istri sebaik-baik mata’ (kenikmatan) dunia—juga ada waktunya istirahat, berhalangan, atau capek.
Di akhirat, kenikmatan selalu tersedia (daimun) dan tidak mengenal musim.
"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa (ialah seperti taman), mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka." (QS. Ar-Ra'd: 35)
Bahkan bidadari di surga digambarkan selalu menanti dan siap melayani suaminya, tanpa ada haid, nifas, atau rasa lelah [QS. Ar-Rahman: 72].
7. Pengguna Kenikmatan Dunia Akan Melemah
Seiring bertambahnya usia, kenikmatan dunia semakin sulit dinikmati karena kemampuan kita menurun. Seseorang yang kaya raya di usia 80 tahun mungkin tidak lagi bisa menikmati makanan lezat atau perjalanan jauh karena tubuhnya lemah, sakit, atau pikun (ar-dhalil 'umur).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlindung dari kondisi ini:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari usia yang paling hina (pikun)." (HR. Bukhari)
Sebaliknya, penghuni surga akan dibangkitkan dalam usia 33 tahun (usia puncak kekuatan), sehat, dan tidak akan pernah menua. Mereka juga tidak mengalami kelelahan (nasab) saat beraktivitas maupun kecapekan (lugub) setelahnya [QS. Fathir: 35].
8. Kenikmatan Dunia Menimbulkan Kebosanan
Sifat dasar manusia adalah cepat bosan. Makanan yang sama, pemandangan yang sama, atau bahkan pasangan yang sama, lama-kelamaan dapat memunculkan rasa jenuh. Ini adalah tabiat dari kenikmatan dunia.
Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjamin penghuni surga tidak akan pernah bosan.
"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu dalam kesibukan (menikmati), lagi bersenang-senang (faakihun)." (QS. Yasin: 55)
Lafazh faakihun ditafsirkan sebagai kenikmatan yang selalu menakjubkan dan membuat takjub, sehingga mereka tidak pernah mengalami kejenuhan.
9. Kenikmatan Dunia Butuh Usaha dan Proses
Di dunia, segala sesuatu membutuhkan proses, mulai dari bekerja keras, menanam, memasak, hingga menunggu. Menunggu adalah suatu bentuk penderitaan.
Di surga, semua bersifat Instan tanpa proses.
Jika seseorang ingin makan buah, buahnya yang akan merendah dan mendekat tanpa perlu memanjat [QS. Al-Haqqah: 23].
Jika seseorang ingin makan burung, burung akan datang dalam kondisi sudah matang dan siap santap.
Jika seorang mukmin ingin memiliki anak di surga, maka kehamilan, kelahiran, dan besarnya anak akan terjadi dalam satu waktu sesuai yang ia inginkan [HR. Tirmidzi].
Semua yang dihasratkan dan diinginkan akan segera dikabulkan.
10. Kenikmatan Puncak yang Tak Terbetik dalam Hati
Meskipun kita sudah mendengar tentang bidadari, istana emas, dan sungai khamar, sejatinya ada kenikmatan di surga yang jauh melampaui imajinasi manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Hadits Qudsi:
"Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh (di surga) kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam hati seorang pun." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah kenikmatan yang tidak ada perumpamaannya di dunia.
Adapun kenikmatan yang paling utama, yang melampaui segala kenikmatan lainnya—bahkan melebihi kenikmatan bidadari dan istana—adalah memandang Wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini adalah hadiah tambahan (ziadah) bagi orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana firman-Nya:
"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah)." (QS. Yunus: 26)
Melihat Wajah Allah adalah puncak kelezatan yang tiada tara, yang akan membuat segala kenikmatan surga yang lain terasa tidak berarti.
Motivasi Menuju Kebahagiaan Abadi
Studi banding ini menunjukkan dengan jelas bahwa menukar kenikmatan akhirat demi kesenangan dunia adalah tindakan yang sangat bodoh (jahil). Dunia hanyalah sarana, tempat menyeberang, bukan tempat tinggal yang sesungguhnya.
Jadikanlah harta, kekayaan, dan segala potensi dunia yang Anda miliki sebagai jembatan untuk meraih akhirat, sebagaimana pesan orang-orang saleh kepada Qarun:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا
تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا
تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
"Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas: 77)
Maka, setelah mengetahui perbandingan ini, janganlah kita menjadi orang-orang yang lalai. Ingatlah kenikmatan surga saat tergerak melakukan maksiat. Berjuanglah dalam tiga pilar kebahagiaan:
Syukur saat diberi nikmat.
Sabar saat diberi ujian.
Istighfar saat melakukan dosa.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita semua termasuk penghuni surga-Nya. Aamiin
Silahkan share artikel ini jika bermanfaat.
-------------------------------------
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Subscribe: https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com
Sumber: Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
https://www.youtube.com/watch?v=_aj6SYlW_F4

0 Komentar