Jibril Radio - Siapa di antara kita yang tidak pernah cemas memikirkan urusan dunia? Dari tagihan yang menumpuk, cicilan yang belum lunas, hingga ketakutan akan masa depan anak-anak, semua itu seringkali merampas ketenangan tidur kita.
Urusan ekonomi dan rezeki bahkan menjadi salah satu faktor utama pemicu stres, depresi, hingga (naudzubillah) perceraian dalam rumah tangga.
Kita seringkali salah paham. Kita mengira rezeki adalah murni hasil kerja keras kita. Kita lupa bahwa ada Dzat Yang Maha Mengatur, Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang telah menjamin setiap napas dan suapan nasi kita.
Sebagaimana Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. sering mengingatkan dalam kajian-kajiannya, kunci ketenangan hidup terletak pada pemahaman yang benar tentang dua hal: Takdir dan Tawakal.
Namun, tahu tidak? Banyak keyakinan keliru (mitos) di masyarakat kita yang tanpa sadar membuat kita salah langkah dalam menjemput rezeki. Kita sudah lelah bekerja keras, tapi hati tetap cemas.
Yuk, kita simak poin-poin penting dari kajian dari Ustadz Syafiq Riza Basalamah tentang Hakikat Rezeki yang Sebenarnya agar kita bisa meluruskan niat dan menenangkan jiwa.
1. Meluruskan Pemahaman: Rezeki Bukan Jaminan Ijazah, Bukan Pula Tolok Ukur Iman
Faktor pertama yang sering membuat kita resah adalah membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat dua hal yang sepertinya tidak adil:
Orang yang pendidikannya biasa saja, tapi rezekinya luar biasa.
Orang yang ahli maksiat, tapi bisnisnya lancar jaya.
Dua hal ini sering menggoyahkan keyakinan kita.
Hakikat Rezeki vs. Kepintaran
Menurut Ustadz Syafiq Riza Basalamah, rezeki tidak berkorelasi lurus dengan ijazah. Beliau memberi contoh nyata, ada seorang bos besar yang tidak bisa baca tulis, namun memiliki anak buah lulusan S2. Ada profesor yang pintar, namun rezekinya mungkin tidak sebanyak muridnya yang dulu malas di kelas.
Ini adalah bukti nyata dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ
"... Kamilah yang membagi-bagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat..." (QS. Az-Zukhruf: 32)
Allah yang membagi. Sekolah dan ijazah adalah bagian dari ikhtiar untuk ilmu, bukan penentu jumlah rezeki.
Hakikat Rezeki vs. Keimanan (Bahaya Istidraj)
Ini yang lebih berbahaya. Kita melihat orang yang tidak pernah shalat, tapi usahanya maju. Lalu kita mulai ragu, "Buat apa saya ibadah jika rezeki saya segini-gini saja?"
Ustadz Syafiq mengingatkan, jika ada orang yang makin maksiat tapi rezekinya makin lancar, itu bukanlah nikmat. Itu adalah Istidraj (jebakan azab yang tertunda).
Allah biarkan dia terbuai dengan dunianya, sampai nanti Allah akan menyiksanya secara tiba-tiba.
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰىٓ اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am: 44)
Jadi, jangan pernah iri dengan rezeki ahli maksiat. Itu adalah rezeki yang tidak berkah dan akan menjadi niqmat (azab) baginya.
2. Hakikat Takdir Rezeki: "Engkau Tidak Akan Mati Sampai Rezekimu Sempurna"
Inilah inti dari ketenangan jiwa. Ketahuilah, Sahabat, bahwa urusan rezeki kita sudah selesai dicatat 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
"Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim)
Semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Jatah nasi kita, jatah uang kita, bahkan jatah napas kita.
Ustadz Syafiq Riza Basalamah menekankan hadits agung yang seharusnya menjadi pegangan kita:
إِنَّ رُوْحَ القُدُsِ نَفَثَ فِي رَوْعِي : أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَ تَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا
"Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan dalam hatiku: Bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan SEMPURNA rezekinya." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)
Pelajaran: Kita tidak akan mati sebelum jatah rezeki terakhir kita, entah itu seteguk air atau sebutir nasi terakhir, masuk ke kerongkongan kita.
Jadi, untuk apa cemas berlebihan? Untuk apa mengambil jalan haram (judi, pinjol, riba) hanya karena takut tidak makan besok?
Allah sudah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya, bahkan hewan melata sekalipun:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا
"Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya." (QS. Hud: 6)
Cicak yang merayap di dinding rezekinya adalah nyamuk yang terbang. Allah takdirkan nyamuk itu terbang mendekati cicak. Kerbau yang (maaf) dianggap "bodoh" pun badannya gemuk, Allah jamin rezekinya. Masa kita manusia yang diberi akal, kalah yakinnya sama kerbau?
3. Bukan Pasrah, Ini Cara Menjemput Rezeki yang Benar (Ajmilu fit Thalab)
"Kalau semua sudah dijamin, berarti kita tidak perlu kerja, dong? Cukup rebahan di rumah?"
Ini adalah pemahaman yang keliru. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha.
Setelah menyampaikan hadits tentang rezeki yang dijamin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan pesannya:
... فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
"...Maka, bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan cara yang BAIK (ajmilu fit thalab)."
Ustadz Syafiq menjelaskan makna Ajmilu fit Thalab (mencari dengan baik):
Cari dengan cara yang halal.
Cari dengan cara yang thayyib (baik), tidak grasak-grusuk.
Cari tanpa meninggalkan ketaatan (tidak meninggalkan shalat).
Cari tanpa stres berlebihan (karena yakin sudah dijamin).
Rezeki yang Dicari vs Rezeki yang Mencari
Kita sering lupa bahwa rezeki itu ada dua, kata Ustadz Syafiq:
Rezeki yang Kita Cari: Ini butuh ikhtiar fisik (bekerja, berdagang).
Rezeki yang Mencari Kita: Ini butuh ikhtiar langit (takwa).
Kebanyakan kita menghabiskan 100% energi untuk yang pertama, dan lupa pada yang kedua. Padahal, rezeki yang kedua ini seringkali datang dari arah yang tidak terduga, seperti hadiah, bonus, atau warisan.
Bagaimana cara mengundang "rezeki yang mencari kita" ini? Allah berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (QS. At-Talaq: 2-3)
Jika rezekimu terasa mampet, jangan buru-buru ganti profesi. Mungkin yang perlu di-upgrade adalah level ketakwaanmu.
4. Dua Kunci Ketenangan Jiwa: "Lihat ke Bawah" dan "Jaga Allah"
Jika pemahaman tadi sudah kuat, Ustadz Syafiq Riza Basalamah memberikan dua amalan praktis agar hati kita tetap tenang selamanya.
Kunci Pertama: Lihatlah Orang di Bawahmu (Unzuru ila Man Asfala Minkum)
Penyakit utama kita adalah social comparison (membandingkan diri). Kita melihat postingan teman di media sosial dan langsung merasa hidup kita paling sengsara.
Obatnya ada dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ ، وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih pantas membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Muslim)
Ustadz Syafiq memberi analogi menohok: "Pilih mana: Punya uang 1 Triliun tapi stroke, atau gaji UMR tapi sehat wal'afiat?"
Tentu kita pilih sehat. Nikmat sehat, nikmat bisa bernapas, nikmat bisa berjalan, itu adalah rezeki tak ternilai yang sering kita lupakan hanya karena silau oleh harta orang lain.
Kunci Kedua: Jagalah Allah, Allah Akan Menjagamu (Ihfadillah Yahfatka)
Ini adalah investasi rezeki terbaik, bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak cucu kita.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan pada Ibnu Abbas:
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ
"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu..." (HR. Tirmidzi)
Bagaimana "menjaga Allah" bisa menjamin rezeki? Ustadz Syafiq mengutip kisah agung dalam Surat Al-Kahfi ayat 82. Mengapa Allah mengirim dua Nabi (Musa dan Khidir 'Alaihimassalam) hanya untuk menegakkan tembok yang mau roboh?
Karena di bawah tembok itu ada harta anak yatim, dan Allah ingin menjaganya. Mengapa Allah begitu peduli pada harta itu?
... وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ...
"... dan ayah mereka (sebelumnya) adalah seorang yang SHALEH." (QS. Al-Kahfi: 82)
Lihat, Ayahnya sudah meninggal. Tapi kesalehan sang Ayah di masa lalu, menjadi "asuransi" rezeki bagi anak-anaknya di masa depan. Allah kirim dua Nabi untuk menjaga harta mereka!
Maka, jika engkau cemas akan rezeki anak-anakmu kelak, cara terbaik bukanlah bekerja membabi buta, tapi jadilah orang tua yang sholeh. Jagalah Allah, maka Allah akan menjaga keluargamu.
Pilar Tawakal: Penutup Ketenangan Jiwa
Sebagai penutup, Ustadz Syafiq mengutip 4 pilar tawakal dari Hatim Al-Asam. Pilar pertamanya saja sudah cukup untuk membuat kita tenang selamanya:
"Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka hatiku pun menjadi TENANG."
Rezekimu tidak akan tertukar. Rezekimu tidak akan diambil temanmu. Jika ada proyek yang "ditikung" orang lain, itu artinya dari awal memang bukan rezekimu, tapi rezeki dia.
Selesai. Sesederhana itu.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kita pemahaman yang lurus, hati yang penuh tawakal, dan mencukupkan kita semua dengan rezeki yang halal lagi berkah.
-----------------------------------------------------
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Subscribe: https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com
Sumber: Kajian Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
https://www.youtube.com/watch?v=yVsxjvwA3Dk&t=4674s

0 Komentar