Persiapan Perjalanan Panjang Menuju Kampung Akhirat

 

Bekal Seorang Mukmin ustadz firanda

Jibril Radio - Pernahkah kita merenung sejenak di tengah hiruk-pikuk kesibukan duniawi ini? Kita sering melihat orang-orang berlalu-lalang, mengejar ambisi, menumpuk harta, dan menjaga kesehatan fisik dengan begitu disiplin. Namun, tak jarang kita dapati realitas yang mengejutkan, sebuah ironi yang menampar kesadaran kita.

Dalam kajiannya, Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. menceritakan sebuah kisah nyata tentang seorang kerabat yang sangat rajin berolahraga lari demi menjaga kesehatan jantungnya. Namun, Qadarullah, justru saat ia sedang berlari kencang, malaikat maut menjemputnya. Ia berlari dengan niat lari dari penyakit, namun sejatinya ia sedang berlari kencang menuju garis finish kehidupannya.

Kematian bukanlah sesuatu yang bisa kita hindari dengan lari, bersembunyi di benteng yang kokoh, atau dengan teknologi medis tercanggih sekalipun. Ia justru menunggu kita di depan, bahkan mengejar kita dari belakang.

Allah Azza wa Jalla berfirman dengan sangat tegas:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu'ah: 8)

Maka, pertanyaannya bukanlah "kapan kita mati?", melainkan "bekal apa yang sudah kita siapkan saat kematian itu datang?".

Dalam kajian tematik "Bekal Seorang Mukmin", Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. hafizhahullah mengupas tuntas hakikat perjalanan hidup manusia. Beliau mengingatkan bahwa kita sedang menempuh dua etape perjalanan: safar di dunia yang singkat, dan safar di akhirat yang abadi.

Artikel ini akan menguraikan poin-poin krusial dari kajian tersebut sebagai bahan muhasabah (introspeksi) kita bersama.

Hakikat Dunia: Sekadar Berteduh di Bawah Pohon

Fondasi utama yang harus ditanamkan dalam benak seorang mukmin adalah kesadaran bahwa dunia ini bukanlah rumah tinggal (Darul Qarar), melainkan hanyalah tempat persinggahan (Darul Mamar).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan yang sangat indah namun menohok tentang hubungan beliau dengan dunia. Beliau bersabda:

“Apalah urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dengan dunia hanyalah seperti seorang pengendara (musafir) yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Jika kita menyadari bahwa kita hanya sedang "berteduh sebentar", tentu kita tidak akan menghabiskan seluruh energi, waktu, dan harta untuk membangun "istana megah" di bawah pohon tersebut, sementara rumah masa depan kita di kampung halaman (akhirat) terbengkalai. Fokus seorang musafir yang cerdas adalah mengumpulkan bekal untuk perjalanan selanjutnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk berbekal:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Lantas, bagaimana cara mengumpulkan bekal takwa tersebut dalam aktivitas sehari-hari yang tampak duniawi? Ustadz Firanda memberikan beberapa kiat praktis yang sangat relevan dengan kehidupan kita.

1. The Power of Niat: Mengubah Pasir Menjadi Emas Pahala

Poin paling brilian yang disampaikan dalam kajian ini adalah tentang manajemen niat. Seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang hampa nilai ibadah. Kita makan karena lapar, tidur karena kantuk, dan bekerja karena butuh uang. Padahal, Islam memberikan fasilitas luar biasa: Niat mampu mengubah kebiasaan (adat) menjadi ibadah.

Ustadz Firanda menantang kita dengan pertanyaan retoris: "Bisakah kita minum kopi karena Allah?"

Jawabannya: Bisa.

Jika secangkir kopi itu diniatkan agar mata terjaga untuk menuntut ilmu, atau agar segar saat menyapa tamu, atau agar kuat beribadah, maka aktivitas mubah itu berubah menjadi mustahab (berpahala). Sebaliknya, jika aktivitas itu tidak bisa diniatkan karena Allah—seperti menonton tontonan yang tidak bermanfaat atau bermaksiat—maka itu pertanda aktivitas tersebut harus ditinggalkan.

Allah berfirman tentang tujuan penciptaan kita:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhariyat: 56)

Maka, wahai Saudaraku, jangan biarkan satu detik pun berlalu tanpa niat Lillahi Ta'ala.

  • Saat berolahraga, niatkan agar jasad kuat untuk shalat malam dan mencari nafkah.

  • Saat tidur, niatkan untuk mengistirahatkan jasad agar esok segar beribadah.

  • Saat bercanda dengan istri, niatkan untuk menyenangkan hati pasangan yang merupakan sedekah.

Dengan manajemen niat yang benar, seluruh helaan nafas kita menjadi bekal di akhirat kelak.

2. Selektif Terhadap Ilmu: Waspada "Ledakan Wawasan"

Di era digital ini, kita mengalami apa yang disebut "ledakan informasi". Kita dijejali dengan jutaan data setiap hari. Namun, Ustadz Firanda mengingatkan kita untuk waspada: Apakah ilmu yang kita serap itu bermanfaat?

Banyak orang yang hafal biografi pemain bola, tahu detail kehidupan selebriti, mengerti silsilah tokoh fiktif dalam film, namun ia buta terhadap agamanya sendiri. Ia tidak tahu rukun shalat, tidak paham mana transaksi riba, serta tidak mengerti hak-hak Allah atas dirinya.

Ini adalah musibah. Ilmu yang tidak bermanfaat hanya akan memenuhi "hardisk" otak kita dan menumbalkan ilmu syar'i yang seharusnya menjadi prioritas. Padahal, pendengaran dan penglihatan kita akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

Ilmu yang bermanfaat adalah bekal cahaya. Dengannya, kita bisa membedakan rezeki yang halal dan haram. Tanpa ilmu, seorang pedagang bisa terjerumus menipu. Tanpa ilmu, ibadah seseorang bisa tertolak karena bid'ah. Maka, jadikan menuntut ilmu syar'i sebagai agenda wajib mingguan kita, bukan sekadar pengisi waktu luang saat bosan.

3. Adab Bertetangga: Jangan Bawa Dosa Kezaliman

Bekal seorang mukmin bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah (Hablum Minallah), tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Salah satu dosa yang sering diremehkan namun bisa membuat seseorang bangkrut di akhirat adalah kezaliman terhadap tetangga.

Dalam kajiannya, Ustadz Firanda menyoroti fenomena nyata di perumahan masa kini. Banyak orang yang masya Allah rajin mengaji, namun kurang peka (tidak sensitif) terhadap hak tetangga.

Contoh nyata yang beliau sebutkan:

  • Parkir Sembarangan: Memarkir mobil di jalan umum hingga menghalangi akses lewat tetangga.

  • Renovasi Serakah: Memiliki tanah 200 meter, tapi membangun bangunan 250 meter (lantai atas menjorok ke jalan atau ke tanah tetangga).

  • Polusi: Mengganggu dengan asap rokok yang masuk ke rumah sebelah, atau suara bising yang mengganggu istirahat tetangga.

Allah menyandingkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada tetangga:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh...” (QS. An-Nisa: 36)

Jangan sampai pahala shalat dan puasa kita habis di akhirat hanya untuk membayar ganti rugi (transfer pahala) kepada tetangga yang kita zalimi di dunia.

4. Menjaga Hak Kerabat: Prioritas yang Sering Terlupakan

Seringkali kita terjebak dalam pencitraan sosial. Kita berlomba-lomba menyantuni anak yatim atau janda yang jauh agar terlihat dermawan, namun melupakan kerabat sendiri (paman, bibi, sepupu) yang sedang kesusahan.

Padahal, dalam Islam, kerabat (dzawil arba/rahim) memiliki hak prioritas. Membantu kerabat yang miskin memiliki dua pahala sekaligus: pahala sedekah dan pahala menyambung silaturahmi.

Allah berfirman:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra: 26)

Hilangkan ego. Jika ada perselisihan dengan saudara, mengalahlah demi Allah. Ustadz Firanda menegaskan, jangan biarkan ego menghancurkan bekal akhirat kita. Hubungan darah adalah amanah yang harus dijaga.

5. Prahara Rumah Tangga: Ancaman Laknat Bagi Istri

Terakhir, bekal yang tak kalah penting disiapkan adalah di dalam benteng rumah tangga kita sendiri. Ustadz Firanda memberikan peringatan yang sangat keras dan matematis, khususnya bagi para istri, mengenai kewajiban memenuhi ajakan suami.

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah memberikan ancaman yang mengerikan bagi istri yang menolak ajakan suaminya tanpa alasan syar'i (seperti sakit atau haid).

“Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu ia enggan (menolak) sehingga suami marah pada malam harinya, maka malaikat melaknat istri tersebut sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari)

Ustadz Firanda menghitung: Jika seorang istri menolak ajakan suaminya pada pukul 20.00 WIB dan subuh jatuh pada pukul 04.30 WIB, maka sang istri dilaknat oleh malaikat selama 8,5 jam.

Bayangkan, wahai para istri shalihah! Bagaimana mungkin seseorang bisa berharap keberkahan hidup, ketenangan hati, dan surga, jika ia tidur lelap dalam keadaan terus-menerus dilaknat oleh makhluk suci yang doanya mustajab?

Sebaliknya bagi para suami, tunaikanlah hak istri dengan sempurna. Jangan menjadi pemimpin yang egois. Jangan sampai istri menjadi "hangus" (tertekan batinnya) karena kelalaian suami, padahal istri mungkin hanya tidak sengaja menghanguskan sedikit roti saat memasak.

Sudah Cukupkah Bekal Kita?

Perjalanan di hadapan kita sangatlah panjang. Alam barzakh bisa jadi berlangsung ribuan tahun, dan satu hari di Padang Mahsyar setara dengan 50.000 tahun di dunia.

Harta yang kita tumpuk akan ditinggal dan menjadi rebutan ahli waris. Jabatan yang kita banggakan akan tanggal. Keluarga yang kita cintai akan pulang meninggalkan kita sendirian di liang lahat yang gelap dan sempit.

Satu-satunya yang akan melompat masuk bersama kita ke dalam kubur adalah Amal Saleh.

Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu'ara: 88-89)

Maka, selagi nafas masih berhembus, mari kita perbaiki niat kita. Mari kita tuntut ilmu yang mendekatkan kita pada surga. Mari kita tunaikan hak sesama manusia dan keluarga.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kita taufik untuk senantiasa mengumpulkan sebaik-baik bekal, yaitu ketakwaan, hingga kita kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Wallahu a'lam bish-shawab.
------------------------------------------------------------ 

Penulis: Tim JibrilRadio.com
Subscribe: https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com 

Sumber: Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
https://www.youtube.com/watch?v=7S0RCWP5MJ4


0 Komentar