Jibril Radio - Pernahkah Anda merasa ada pergulatan batin saat tangan hendak merogoh saku untuk memberi? Di satu sisi, ada keyakinan bahwa Allah akan mengganti, namun di sisi lain, ada bisikan halus yang mengkhawatirkan hari esok, menghitung cicilan yang belum usai, atau sekadar merasa sayang kehilangan angka di saldo tabungan. Fenomena ini bukanlah sekadar masalah manajemen keuangan, melainkan indikator kesehatan iman yang sedang diuji.
Harta seringkali dianggap sebagai aset, padahal dalam pandangan syariat, ia bisa menjadi fitnah terbesar jika tidak dikelola dengan hati yang merdeka. Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah, MA, dalam kajiannya mengingatkan kita pada sebuah kebenaran fundamental: iman dan kekikiran adalah dua entitas yang saling meniadakan. Seperti air dan api, keduanya tidak akan pernah bisa menghuni satu wadah yang sama secara bersamaan.
I. Korelasi Mutlak: Iman Adalah Kedermawanan
Jika kita menelaah lembaran Al-Qur'an, kita akan menemukan sebuah pola yang konsisten. Hampir setiap kali Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil orang-orang yang beriman, perintah untuk berbagi hampir selalu menyertainya. Iman bukan sekadar pengakuan lisan atau ritual sujud, melainkan sebuah keyakinan yang memanifestasikan dirinya dalam bentuk kepedulian sosial.
Allah berfirman dalam pembukaan Surah Al-Baqarah ayat 2-3:
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Ayat ini menegaskan bahwa karakter utama Al-Muttaqin (orang bertakwa) adalah mereka yang mampu memutus rantai keterikatan batin dengan harta. Inilah yang disebut dengan iman yang sebenarnya (haqqo). Sebagaimana ditegaskan pula dalam Surah Al-Anfal ayat 4, bahwa mukmin sejati adalah mereka yang hatinya bergetar saat nama Allah disebut dan iman mereka bertambah saat ayat-ayat-Nya dibacakan, yang kemudian dibuktikan dengan penegakan salat dan infak.
II. Mengenal Penyakit Hati: Antara Bukhl dan Asy-Syuh
Dalam terminologi Islam, kita sering mendengar kata "pelit" atau "kikir". Namun, Ustadz Syafiq merinci bahwa ada tingkatan yang lebih berbahaya dari sekadar bakhil, yaitu Asy-Syuh.
Al-Bukhl (Kikir): Sifat seseorang yang menahan hartanya sendiri untuk tidak diberikan kepada orang lain yang membutuhkan atau untuk kepentingan agama.
Asy-Syuh (Kikir yang Disertai Kerakusan): Ini adalah penyakit yang lebih kronis. Ia bukan hanya tidak mau memberi, tetapi hatinya dipenuhi ambisi untuk terus mengambil hak orang lain, rakus terhadap dunia, dan merasa cemas jika orang lain mendapatkan kebaikan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
"Wala yajtami'usy-syuhhu wal imanu fi qalbi 'abdin abada." (Dan tidak akan berkumpul sifat kikir/rakus dan iman di dalam hati seorang hamba selama-lamanya.) – HR. An-Nasa’i.
Hadits ini menjadi peringatan keras. Jika rasa kikir masih mendominasi keputusan kita, maka kita perlu mempertanyakan: sudahkah iman itu benar-benar meresap ke dalam hati, ataukah ia masih tertahan di tenggorokan?
III. Mengapa Kikir Menghancurkan?
Sifat kikir dan kerakusan bukan hanya merusak individu, tetapi merupakan agen penghancur peradaban. Ustadz Syafiq menjelaskan bahwa umat-umat terdahulu dibinasakan bukan semata-mata karena dosa moral, tetapi karena sifat syuh yang memicu kriminalitas.
Ketika seseorang terlalu mencintai dunianya, ia akan menghalalkan segala cara. Korupsi, suap, begal, hingga pemutusan silaturahim demi harta warisan, semuanya berakar pada sifat syuh. Betapa banyak keluarga yang hancur, kakak dan adik tidak bertegur sapa puluhan tahun hanya karena berebut jengkal tanah? Ini adalah bukti nyata bahwa sifat kikir telah membutakan mata hati dari kebenaran.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:
"Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Keberuntungan yang dimaksud bukan hanya di akhirat, melainkan ketenangan jiwa di dunia. Orang bakhil hidup dalam ketakutan akan kemiskinan, padahal ia sedang berada di atas tumpukan harta. Ia miskin dalam mentalitasnya, meskipun kaya dalam statistiknya.
IV. Hakikat Dunia: Setetes Air di Ujung Jari
Salah satu obat mujarab untuk membunuh sifat kikir adalah memahami hakikat dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan perumpamaan yang sangat logis bagi akal manusia. Beliau mengibaratkan dunia ini seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke tengah samudra luas, lalu mengangkatnya. Tetesan air yang tersisa di jari itulah dunia, sedangkan samudra luas yang tak bertepi itulah akhirat.
Sangat tidak rasional jika 8 miliar manusia di bumi ini saling membunuh dan berselisih hanya demi memperebutkan satu "tetes" air, sementara mereka mengabaikan "samudra" yang menanti di depan mata. Kita sering lupa bahwa harta yang benar-benar milik kita bukanlah yang ada di rekening bank, melainkan yang telah kita makan (menjadi kotoran) dan yang telah kita sedekahkan (menjadi aset abadi).
Sebagaimana dialog Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam dengan Aisyah radhiallahu 'anha saat memotong kambing. Ketika ditanya apa yang tersisa, Aisyah menjawab hanya bagian kaki depannya. Namun Nabi meluruskan: "Semuanya tersisa (abadi di sisi Allah), kecuali kaki depan ini (yang akan habis dimakan)."
V. Strategi Mengobati Kekikiran Jiwa
Bagi kita yang merasa masih memiliki benih-benih kikir, Ustadz Syafiq memberikan beberapa langkah taktis untuk membersihkannya:
Menanamkan Keyakinan pada Janji Allah: Allah menawarkan investasi yang mustahil rugi. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan balasan 700 kali lipat bagi mereka yang berinfak di jalan-Nya. Jika kita percaya pada investasi dunia yang menawarkan keuntungan 20%, mengapa kita ragu pada Pencipta Alam yang menjanjikan 70.000%?
Berdoa dengan Sungguh-sungguh: Bahkan sahabat sekaya Abdurrahman bin Auf pun sangat takut pada sifat kikir. Beliau sering tertangkap basah hanya membaca satu doa saat tawaf: "Allahumma qini syuhha nafsi" (Ya Allah, selamatkanlah aku dari kekikiran jiwaku). Beliau sadar bahwa jika selamat dari kikir, maka ia akan selamat dari maksiat lainnya.
Melawan Bisikan Setan: Setan selalu menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan (asy-syaithanu ya'idukumul faqra). Lawanlah ketakutan itu dengan memberi saat sempit maupun lapang.
Memperbanyak Zikir: Zikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, Allahu Akbar adalah pendidik jiwa. Orang yang lidahnya basah dengan zikir akan lebih mudah melepaskan keterikatan hatinya pada dunia.
Duduk Bersama Orang Saleh yang Dermawan: Sifat itu menular. Jika kita berkawan dengan mereka yang ringan tangan, maka batin kita akan malu untuk tetap menjadi kikir.
Menuju Kebebasan Finansial Hakiki
Kebebasan finansial yang sesungguhnya bukanlah saat kita memiliki segalanya, melainkan saat harta berada di tangan, bukan di dalam hati. Ketika harta hanya di tangan, ia mudah untuk dilepaskan demi meraih rida Allah. Namun ketika harta merasuk ke dalam hati, ia akan menjadi belenggu yang menyeret pemiliknya ke dasar kebinasaan.
Mari kita evaluasi kembali isi hati kita. Jika iman adalah cahaya, maka kikir adalah kegelapan. Keduanya tidak bisa berbagi ruang. Mari kita cerahkan hati kita dengan kedermawanan, terutama saat kita bersiap memasuki bulan suci Ramadan, bulan di mana Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam menjadi manusia yang paling dermawan melebihi angin yang berhembus.

0 Komentar