Jibril Radio - Pernahkah Anda bertanya-tanya, untuk apa kita bangun setiap pagi, membanting tulang, dan mengumpulkan pundi-pundi harta yang pada akhirnya akan kita tinggalkan? Di tengah hiruk-pikuk pencarian duniawi, sering kali kita lupa bertanya: "Jika dunia ini ditukarkan dengan secercah iman, manakah yang akan kita pilih?" Kita hidup di zaman di mana tawaran dunia begitu menggiurkan, namun di sisi lain, ketenangan batin terasa semakin mahal harganya.
Dalam sebuah kajian di Aceh, Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA membukakan mata kita tentang sebuah realitas yang tajam. Beliau memulai dengan sebuah dialog antara Rasulullah ï·º dengan sahabatnya, Ad-Dhahhaq. Sebuah dialog yang bukan sekadar basa-basi, melainkan tamparan halus bagi kita yang terlalu mencintai dunia.
Perumpamaan Dunia: Dari Meja Makan Hingga Pembuangan
Rasulullah ï·º bertanya kepada Ad-Dhahhaq tentang makanannya. Ad-Dhahhaq, yang termasuk kalangan mampu, menjawab bahwa ia mengonsumsi daging dan susu. Namun, Nabi ï·º mengejarnya dengan pertanyaan retoris: "Akan menjadi apakah semua makanan mewah itu nantinya?" Ad-Dhahhaq terdiam, lalu menjawab dengan santun: "Menjadi sesuatu yang engkau sendiri sudah mengetahuinya, ya Rasulullah."
Ustadz Syafiq menekankan poin ini dengan sangat dalam. Allah Azza wa Jalla menjadikan makanan yang masuk ke perut manusia sebagai perumpamaan dunia. Selezat apa pun ikan bakar, udang galah, atau daging yang kita santap, muaranya adalah kotoran yang bahkan kita sendiri enggan melihatnya. Begitulah dunia; ia nampak indah saat ditumpuk dan dikejar, namun hakikatnya adalah sesuatu yang akan kita buang dan tinggalkan.
Maka, sungguh merugi mereka yang menjual agamanya demi mendapatkan sedikit kenikmatan dunia yang "sedikit" ini. Ingatlah, dua rakaat sebelum subuh saja lebih baik daripada dunia dan seisinya. Jika dunia seisinya saja kalah dengan dua rakaat sunnah, maka nilai harta 1 miliar atau 1 triliun tidak ada harganya di timbangan akhirat.
Iman: Ketika Cahaya Meresap ke Relung Hati
Sebuah pertanyaan besar muncul: "Mengapa ada orang yang rela mati demi mempertahankan iman, sementara ada yang rela murtad hanya demi sesuap nasi?"
Ustadz Syafiq mengutip dialog bersejarah antara Kaisar Romawi (Heraklius) dengan Abu Sufyan (sebelum ia masuk Islam). Sang Kaisar bertanya: "Apakah ada di antara pengikut Muhammad yang murtad karena benci pada agamanya setelah mereka masuk ke dalamnya?" Abu Sufyan menjawab: "Tidak ada."
Inilah rahasia iman. Sebagaimana dikatakan Heraklius: "Begitulah iman, jika keceriaannya telah meresap dan bercampur ke dalam hati, ia tidak akan keluar lagi." Iman yang benar bukanlah sekadar label di KTP atau ucapan di lisan. Iman yang benar adalah yang sanggup berdiri tegak di hadapan ujung tombak.
Beliau kemudian membawa kita pada ingatan kolektif tentang para syuhada:
Sumayyah binti Khabbab: Wanita pertama yang syahid dalam Islam. Ia disiksa oleh Abu Jahal, ditawari kebebasan jika mau mencela Islam, namun ia tetap memilih Lailahaillallah hingga nyawanya direnggut secara keji.
Masyitah (Tukang Sisir Putri Firaun): Sosok yang aromanya tercium harum oleh Rasulullah ï·º saat peristiwa Isra Mikraj. Ia dan anak-anaknya dilemparkan ke dalam kuali minyak mendidih karena mengakui Allah sebagai Tuhannya. Bahkan, bayi di gendongannya pun Allah buat berbicara untuk menguatkan hati sang ibu: "Wahai Bunda, engkau berada di atas kebenaran."
Kisah-kisah ini bukan untuk kita dengar sambil lalu. Ini adalah standar keteguhan. Di zaman sekarang, mungkin kita tidak diuji dengan kuali minyak panas, namun kita diuji dengan "fitnah potongan malam yang gelap"—di mana seseorang beriman di pagi hari namun kafir di sore harinya karena kepentingan dunia.
Bencana sebagai Tanda Cinta dan Ujian Pemurnian
Aceh, Palu, dan berbagai belahan bumi lainnya telah merasakan guncangan musibah. Ustadz Syafiq mengingatkan bahwa ketika Allah mencintai sebuah kaum, Dia akan memberikan ujian (ibtila). Musibah bukan selalu berarti benci, melainkan panggilan sayang agar hamba-Nya kembali ke masjid, kembali bersujud, dan menyadari bahwa rumah, mobil, dan harta bisa hilang dalam hitungan detik.
Allah berfirman: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ujian adalah alat penyaring; untuk memisahkan mana emas yang murni dan mana tembaga yang hanya sepuhan; mana mukmin yang sejati dan mana mukmin yang "di pinggiran" (yang beriman hanya saat bisnisnya lancar, namun berpaling saat kena rugi).
Shalat: Poros Hubungan Hamba dengan Khalik
Ustadz Syafiq dengan tegas mengingatkan bahwa kaitan antara Islam dan rahmatan lil 'alamin tidak bisa dilepaskan dari rukun Islam, terutama shalat. Shalat adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya diterima langsung oleh Rasulullah ï·º di Sidratul Muntaha.
Beliau memberikan perspektif yang menarik:
Shalat Tidak Mengenal Libur: Tidak seperti puasa (setahun sekali), haji (seumur hidup sekali), atau zakat (saat sampai nisab), shalat wajib dilakukan lima waktu sehari semalam sepanjang hayat.
Kondisi Apa Pun: Sakit tidak menghalangi shalat (bisa sambil duduk atau berbaring). Tidak ada air pun tidak menghalangi shalat (bisa tayamum).
Sanksi dalam Syariat: Beliau mengutip pendapat dalam Mazhab Syafi'i tentang beratnya konsekuensi bagi mereka yang meninggalkan shalat dengan sengaja. Shalat adalah pembeda antara keimanan dan kekufuran.
Bagi laki-laki, masjid adalah tempat utama. Beliau berseloroh dengan logika matematika pahala: "Jika di rumah dapat 1 (atau sekadar pujian istri), sementara di masjid dapat 27, kenapa kita masih pilih yang sedikit?" Shalat di masjid bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tapi sarana membangun komunitas yang dilingkupi rahmat.
Menuju Ramadan: Membersihkan Diri di Bulan Sya'ban
Sebagai penutup, Ustadz Syafiq mengingatkan bahwa saat ini kita berada di bulan Sya'ban—gerbang menuju Ramadan. Ada beberapa langkah praktis yang harus dilakukan sekarang:
Bayar Hutang Puasa: Terutama bagi ibu-ibu atau musafir yang masih memiliki tanggungan puasa tahun lalu, segera tuntaskan sebelum Ramadan tiba.
Latihan Puasa Sunnah: Meneladani Rasulullah ï·º yang banyak berpuasa di bulan Sya'ban untuk memanaskan "mesin" spiritual kita.
Taubat dan Lapang Dada: Masuklah ke bulan Ramadan dengan hati yang bersih dari dendam dan permusuhan.
Islam sebagai rahmatan lil 'alamin akan tegak jika setiap individu Muslim memahami hakikat tauhid, menjaga shalatnya, dan tidak silau dengan perhiasan dunia. Dunia ini hanyalah tempat mampir yang singkat, sementara tempat tinggal kita yang sesungguhnya sedang kita bangun melalui amal-amal shaleh kita saat ini.
Semoga Allah menguatkan iman kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita dengan bulan Ramadan dalam keadaan iman yang sedang di puncak.
Wallahu a'lam bishawab
______________________________________
Penulis: Tim JibrilRadio.com
Subscribe: https://www.youtube.com/@JibrilRadio
Yuk Support Operational Jibril Radio: BSI 717 925 7437
Konfirmasi: Email: jibrilradio@gmail.com
Sumber: Kajian Ustadz Syafiq Riza Basalamah
https://www.youtube.com/watch?v=kS77dKnctpQ

0 Komentar